Ekonomi Bisnis

Bahlil: Sektor Bisnis Indonesia “survive” dari gejolak geopolitik global

13
×

Bahlil: Sektor Bisnis Indonesia “survive” dari gejolak geopolitik global

Sebarkan artikel ini
Bahlil: Industri Bisnis Indonesia “survive” dari gejolak geopolitik global

… Indonesia terus-menerus survive pada peningkatan ekonominya

Jakarta – Menteri Investasi/Kepala Badan Kerjasama Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa perkembangan perekonomian Nusantara terus-menerus mampu survive meski berlangsung geopolitik global.

"Dalam sejarah konflik global yang digunakan berjalan sejak tahun 2019, kemudian masuk (pandemi) COVID-19, Nusantara selalu survive pada peningkatan ekonominya," kata Bahlil di sela Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengusaha Jasa Boga (APJI) periode 2024 -2029 pada Jakarta, Kamis malam.

Menurut Bahlil, fondasi dunia usaha Indonesia permanen kuat walaupun pada berada dalam situasi ketidakpastian dunia usaha akibat gejolak geopolitik global.

Bahlil menyebutkan, dinamika global yang dimaksud bisa jadi mengancam perekonomian Tanah Air seperti pertempuran dagang Amerika serta China, pemulihan dunia usaha pasca pandemi COVID 19, pertempuran antara Ukraina-Rusia, Palestina dan juga Israel, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

"Dan sekarang masih terbentuk peperangan dagang antara China serta Amerika. Itu cukup memberikan dampak pada kedudukan ekonomi global yang mana tidaklah menentu. Ukurannya pun jelas biaya minyak sekarang masih tinggi, nilai tukar rupiah kita sekarang udah mulai turun," ujar Bahlil.

Bahlil mengungkapkan bahwa meskipun berlangsung hal itu, namun perkembangan dunia usaha Tanah Air mampu survive lantaran didukung oleh adanya peran UMKM yang dimaksud cukup berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

"Kenapa survive? Ada tiga rumus postur perkembangan ekonomi kita itu didorong oleh konsumsi, pembangunan ekonomi dan juga ekspor-impor. 53 persen itu konsumsi, 30 persen investasi, juga Produk Domestik Bruto kita 61 persen itu dari UMKM, serta UMKM ini punya partisipasi yang dimaksud besar," ungkap Bahlil.

Ia menyebutkan UMKM sendiri berkontribusi sebesar 61 persen terhadap total item domestik bruto (PDB) lalu menerima sekira 97 persen tenaga kerja lokal.

"Itulah kemudian kenapa berubah jadi alasan di dalam sedang gempuran global ekonomi yang mana tidaklah menentu, fondasi sektor ekonomi kita kuat, dan juga sumbangan UMKM ini dari tenaga kerja yang dimaksud ada 130 jt di dalam Indonesia, 120 jt (diantaranya) itu UMKM," kata Bahlil.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Sektor Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan Bank Bumi (World Bank) telah terjadi mengubah proyeksi peningkatan perekonomian Negara Indonesia tahun 2025 bermetamorfosis menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 4,9 persen.

“Bank Global baru hanya menaikkan growth forecast Indonesi pada tahun 2024 dari yang mana tadinya 4,9 persen menjadi 5,0 persen kemudian untuk tahun 2025 dari 4,9 persen berubah menjadi 5,1 persen. Di berada dalam perekonomian bumi mengalami tekanan pemuaian tinggi, pemuaian Negara Indonesia juga terus terjaga di rentang target sasaran dalam bawah 3 persen,” kata Airlangga di Kongres Pers Kondisi Fundamental Sektor Bisnis Terkini lalu RAPBN 2025 dalam Jakarta, Mulai Pekan (24/6).

Airlangga juga melakukan konfirmasi bahwa kondisi fundamental makroekonomi Tanah Air relatif lebih lanjut baik jikalau dibandingkan dengan negara lainnya (peers).

Ia memberikan contoh neraca kegiatan berjalan atau current account Indonesia yang digunakan mengalami defisit 0,64 persen dari item domestik bruto (PDB). Rentang defisit yang dimaksud lebih besar aman dibandingkan negara lain seperti Chile yang tersebut minus 4,40 persen kemudian India minus 3,32.

"Jadi negara-negara seperti Negara Indonesia itu relatif lebih lanjut baik dari negara ASEAN lain, kecuali Thailand. Kemudian dengan rating yang relatif baik, dengan kita punya naiknya harga juga relatif baik dibandingkan yang mana lain," ujarnya.

Airlangga mengungkapkan sektor riil Indonesi menunjukkan prospek dunia usaha yang baik juga dihadiri oleh dengan aktivitas sektor serta konsumsi Indonesi yang tersebut masih terjaga baik.

Artikel ini disadur dari Bahlil: Ekonomi Indonesia “survive” dari gejolak geopolitik global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *