Olahraga

Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

11
×

Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

Sebarkan artikel ini
Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

Bandarlampung – Perjalanan dari Perkotaan Bandarlampung menuju ke Krui, pusat Kota Pesisir Barat, dengan melintasi jalan berkelok-kelok membelah kawasan taman nasional yang kadang disambut oleh kera-kera yang tersebut mengajukan permohonan makanan ke pengguna jalan, memakan waktu sekitar tujuh jam.

Kondisi yang tersebut kadang diwarnai hilangnya sinyal telepon seluler, bermetamorfosis menjadi pengalaman mengasyikkan, sebelum bertemu dengan Faiq Muhammad, seseorang pemuda kelahiran Krui 1995, yang tersebut terus berupaya mewujudkan mimpi anak-anak di dalam kampung halamannya untuk berubah menjadi peselancar profesional.

 
Kisah inspiratif pemuda asli Lampung itu di membantu mengembangkan peluang anak-anak desa di dalam Krui untuk berubah menjadi penakluk ombak, dimulai pada empat tahun silam, tepatnya pada 2020.
 
Semua upaya itu ia jalani tanpa keahlian berselancar, melainkan semata-mata mengandalkan pernah bermain selancar pada waktu kecil di dalam kampung halaman. Karena dirinya sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah melawan (SMA) berpindah domisili ke Perkotaan Bandarlampung, kemudian melanjutkan institusi belajar lebih tinggi pada bidang kuliner pada Daerah Perkotaan Bandung, Jawa Barat.
 
Setelah itu, ia menetap dalam Bali selama empat tahun, dengan profesi sebagai juru masak atau chef. Selama ia menekuni profesi itu, sebelum banting stir ke planet selancar, bayang-bayang menaklukkan ombak liar Krui kemudian kecintaannya terhadap selancar permanen memenuhi benak pemuda berperawakan lebih tinggi itu.
 
Bahkan, kebijakan besar telah dilakukan dipilihnya, meskipun sempat diwarnai rasa bimbang untuk melepas kesempatan emas menggapai mimpinya bekerja pada restoran ternama juga bergengsi ke Kanada. Dirinya mempercayai bahwa dengan menyingkirkan impiannya sendiri demi mewujudkan mimpi anak-anak didiknya berubah menjadi sebuah anugerah kemudian tujuan hidupnya.
 
“Dulu saya merupakan city boy, menyimpulkan khalayak itu dari pakaian mahalnya, berapa sejumlah menghabiskan uang, bisa jadi berbelanja secara impulsif. Dan disini saya baru sadar tidak itu tujuan hidup yang tersebut saya cari, tetapi mengembangkan selancar. Meski secara finansial selancar tidaklah menciptakan apa-apa tapi kepuasan batin meninjau adik-adik bisa saja melenggang ke kompetisi nasional meningkatkan semangat di diri,” kata beliau bercerita untuk ANTARA.
 
Keputusan besar yang digunakan ia ambil terbentuk pada waktu pandemi COVID-19. Kala itu, Pulau Dewata berubah jadi sepi juga pekerjaan tiada berjalan dengan baik. Kondisi itu berubah menjadi momen tepat bagi Faiq untuk pulang ke tanah kelahirannya di dalam Krui, Daerah Pesisir Barat.
 
Seperti telah terjadi ditakdirkan oleh semesta, kepulangannya ke Krui telah dilakukan mempertemukan dirinya dengan seseorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang mana bersahabat dengan ombak-ombak di sedang lautan. Karena bocah itu tidaklah memiliki teman sebaya akibat mendapatkan stigma negatif akibat tidaklah dapat membaca dengan lancar ke usianya pada waktu itu, si bocah ombak itu banyak menghabiskan waktu bercengkerama dengan ombak.
 
Jeni Black Mamba, nama panggilan yang tersebut cukup unik untuk anak laki-laki kecil berkulit sawo matang yang dimaksud telah dilakukan terbakar Matahari. Anak dengan badan kecil itu sudah pernah mampu menunggangi ombak dengan lincah. Selain itu, ada Diah, anak perempuan yang juga sudah pernah bersahabat dengan ombak di dalam kawasan itu, bermetamorfosis menjadi titik balik hidup Faiq agar mengembangkan olahraga selancar dalam kampung halaman.
 
Potensi pengembangan olahraga selancar ke daerahnya ia dapatkan pada waktu mendengar beraneka cerita dan juga cita-cita anak-anak laut yang digunakan pada waktu ini telah dilakukan menjadi atlet selancar potensial selama Pesisir Barat.
 
Bagi anak-anak kecil dalam Krui, selancar tidak ada hanya sekali sebagai olahraga, tapi sebuah awal keberadaan yang mengubah sudut padang mereka. Meraka ada yang dimaksud berasal dari keluarga yang mana bukan harmonis, di tinggal sosok ayah sejak kecil, tidak ada sekolah, serta mengalami perundungan. Selancar menjadi jalan meninggalkan mereka itu dari kesulitan itu, dari dulunya dicela serta bukan punya kawan, ketika ini mereka bermetamorfosis menjadi pujaan semua orang. Semua ingin berubah menjadi teman dari merek yang dimaksud dulunya diremehkan itu.
.

Shaldira, bibit atlet muda selancar di Krui, Kota Pesisir Barat, yang mana sudah pernah meraih prestasi. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Pada awal pengembangan talenta atlet selancar lokal Krui, Faiq melakukan dengan menggunakan dana pribadi.
 
Dana itu berasal dari 60 persen laba yang dimaksud didapatkan Faiq dari mengatur kafe ke objek wisata setempat. Kini usahanya mengembangkan peluang anak-anak itu makin berkembang, sebab telah lama banyak sponsor dari jenama lokal hingga jenama terkenal dengan syarat Eropa, Amerika Serikat, yang dimaksud membiayai pelatihan atlet anak-anak Krui, seperti dengan memberikan sponsor papan selancar yang harganya Rp8-10 jt per unit, kemudian berubah-ubah permintaan lainnya.
 
Saat ini telah terjadi ada ada 25 anak selama Pesisir Barat yang bergerak di pengawasan untuk memperdalam kemampuan selancar yang tersebut dipersiapkan bagi penyelenggaraan kompetisi.
 
Usia termuda yang mana disiapkan untuk kompetisi ada Jeni (12 tahun) kemudian yang digunakan tertua ada Sobari (21 tahun). Untuk peselancar perempuan ada tiga orang, yaitu Shaldira, Diah, kemudian Lala, yang tersebut pada waktu ini dipersiapkan untuk mengambil bagian pada pekan oleh raga nasional (PON) untuk kelas longboard.
 
Selain 25 pendatang anak yang mana sudah ada memperdalam keterampilan berselancar ke tingkat profesional, masih ada anak-anak lain yang tersebut masih berproses dengan rentang usia 7 tahunan. Mereka, saat ini tekun berlatih menggunakan papan selancar bekas dari anak-anak yang mana lebih besar dewasa akibat keterbatasan finansial klub selancar lokal itu.
 
Talenta muda peselancar lokal Pesisir Barat itu sudah menorehkan berbagai prestasi. Klub Selancar Tanjung Setia Board Rider sudah mampu bermetamorfosis menjadi juara umum pada perlombaan di Sumatera Series.
 
Peselancar anak Shaldira sudah duduk dalam tempat pertama pada kompetisi di Padang, ke Kaur, lalu liga surfing Indonesia. Anak-anak lain pun sudah pernah mampu meraih berubah-ubah juara di beraneka kompetisi selancar nasional serta regional. Bahkan, atlet lokal bernama Junika, sedang dikirim ke Bali untuk meningkatkan jam terbang dengan mengikuti beraneka kompetisi.
 
Sebenarnya ada dua kategori yang digunakan dipersiapkan untuk selancar ini, yaitu yang dimaksud dipersiapkan untuk kompetisi, ada beberapa atlet muda laki-laki, seperti Sobari, kemudian untuk perempuan ada Shalidara juga Diah.
 
Sementara untuk yang mana free surfer, yaitu untuk keperluan foto, pengambilan video, semua atlet binaan Faiq sudah ada bisa. Mereka juga rutin ikutkan di kejuaraan-kejuaraan, sehingga mentalnya terlatih dan juga tidaklah minder atau malu bertanding, walau menggunakan papan selancar yang tersebut tiada sebagus anak lain.
 
Agar talenta kemudian bibit atlet selancar pada Lampung ataupun Sumatera semakin banyak, kemudian mampu meraih prestasi setinggi-tingginya, perlu diselenggarakan kegiatan selancar secara rutin setiap bulan, guna mengasah kemampuan para atlet muda.

Atlet muda selancar pada Krui Kota Pesisir Barat yang tersebut berada dalam bersiap berselancar. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Cerita kesuksesan bibit atlet selancar berprestasi itu terlihat, salah satunya di sosok Neysa Awalia Shaldira, siswi sekolah menengah pertama (SMP), yang dimaksud berada dalam memasuki jenjang sekolah sekolah menengah menghadapi pada tahun ini. Dia merupakan bibit peselancar unggul dari Krui.
 
Gadis berpenampilan ramah dengan rambut bergelombang itu bercerita bahwa ketertarikan dirinya terhadap olahraga selancar sudah ada dimulai sejak kecil, dimana kedua warga tuanya merupakan warga asli Pulau Pisang yang tiada asing dengan derai ombak di dalam perairan Pesisir Barat.
 
Dalam event turnamen selancar internasional WSL Krui Pro 2024 yang mana dihadiri oleh oleh 265 pendatang atlet profesional dari 20 negara, Dira sapaan akrab Shaldira, sama-sama atlet Krui lainnya mendapatkan kesempatan bergabung juga pada kelas profesional QS 5.000 melalui skema wild card.
 
Meski cuma mampu lolos pada putaran quarter final di kelas Junior Pro, hal itu tidaklah menyurutkan dirinya untuk terus mengukir prestasi di beragam perlombaan selancar lainnya.
 
Dengan konsisten juga disiplin membagi waktu sekolah, bersosialisasi dengan rekan sejawat kemudian berlatih dengan anak-anak lain di dalam klub selancar setiap harinya menunjukkan bahwa keseriusan talenta muda selancar Pesisir Barat tak sanggup dipandang sebelah mata.
 
Adanya kemungkinan yang disebutkan disambut positif oleh pemerintah, yakni pemerintah pusat, melalui Menteri Pemuda lalu Olahraga (Menpora) dengan kegiatan kompetisi selancar bermetamorfosis menjadi terintegrasi menjadi turnamen nasional, dan juga memperkuat konstruksi surfing center, sebagai tempat pelatihan bagi atlet lokal di dalam Krui, Daerah Pesisir Barat.
 

Artikel ini disadur dari Kisah Faiq wujudkan mimpi anak Krui jadi peselancar profesional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *