Ekonomi Bisnis

Analis Asumsi Besok Rupiah Menguat dalam Kisaran Rp16.320 hingga Rp16.410 per Dolar Amerika Serikat

14
×

Analis Asumsi Besok Rupiah Menguat dalam Kisaran Rp16.320 hingga Rp16.410 per Dolar Amerika Serikat

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Analis pangsa sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah menguat di perdagangan Senin, 1 Juli 2024. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat, 28 Juni 2024, rupiah menguat 30 poin ke level Rp16.375 per dolar AS.

“Untuk  perdagangan Awal Minggu depan, rupiah fluktuatif tapi ditutup menguat pada rentang  Rp16.320 – Rp16.410 per dolar AS,” kata Ibrahim melalui penjelasan tertulis, dikutipkan Minggu, 30 Juni 2024.

Menurut Ibrahim, rupiah menguat lantaran dolar sedikit terpengaruh data terbaru yang menunjukkan adanya penurunan pada perekonomian Amerika Serikat, khususnya pangsa tenaga kerja.

Akan tetapi, walaupun rupiah menguat, nilai tukarnya sudah ada melampaui asumsi makro angggaran pendapatan serta belanja negara (APBN) 2024. Adapun pada asumsi makro APBN 2024, rupiah diproyeksikan senilai Rp15.000 per dolar AS.

Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didin S. Damanhuri pun mengkaji situasi ini sebagai depresiasi rupiah yang dimaksud tak terkendali. “Walaupun sempat diusahakan dengan operasi lingkungan ekonomi oleh BI (Bank Indonesia) turun, tapi kemudian naik lagi, bahkan hampir menyentuh Rp16.500,” katanya terhadap Tempo pada Sabtu, 29 Juni 2024.

Adapun sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan bahwa pada awal tahun hingga Juni ini, rupiah telah lama terdepresiasi 6,25 persen ketimbang akhir 2024. 

Didin menilai, ada beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, yang digunakan menyokong pelemahan nilai tukar rupiah. Faktor eksternal, telah tentu situasi geopolitik maupun geoekonomi yang digunakan terus bergejolak sehingga memproduksi The Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam level 5,5 persen.

Sedangkan faktor internal, menurut Didin, ialah buruknya fundamental dunia usaha Indonesia. Hal ini menyoal defisit APBN yang direncanakan 2,45 sampai 2,82 persen. Menurut dia, rencana yang dimaksud adalah refleksi pengeluaran APBN yang sebelumnya secara umum digelontorkan secara besar-besaran untuk proyek-proyek infrastruktur. “Ini yang dimaksud akan menimbulkan time lag terhadap perkembangan ekonomi,” tutur Didin.

Artinya, kata Didin, dampak terhadap peningkatan ekonominya tidak ada terlalu kuat, begitu juga terhadap kesempatan kerja. Situasi tersebut, menurut dia, diperparah dengan gelontoran anggaran bantuan sosial (bansos) besar-besaran yang politis terhadap pemilihan raya 2024, bahkan pemilihan kepala daerah serentak. “Sehingga, bermetamorfosis menjadi kontraproduktif terhadap peningkatan kegiatan ekonomi kemudian penciptaan kesempatan kerja,” ujarnya.

ANNISA FEBIOLA | ILONA ESTHERINA

Terpopuler: Sri Mulyani Sebut Rupiah Sudah Terdepresiasi 6,25 Persen, PDN Belum Normal Layanan Sameday Passport dalam Soekarno-Hatta Tutup

Artikel ini disadur dari Analis Prediksi Besok Rupiah Menguat di Kisaran Rp16.320 hingga Rp16.410 per Dolar AS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *