Ekonomi Bisnis

Laba Bank Bisa Mengembang kalau Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

11
×

Laba Bank Bisa Mengembang kalau Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

Sebarkan artikel ini
Laba Bank Bisa Mengembang kalau Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

. Salah satu unsur terbesar yang dimaksud mempengaruhi profit perbankan adalah biaya pencadangan kredit yang digunakan lebih tinggi akibat kredit bermasalah. Maka itu, rencana perpanjangan restrukturisasi kredit terdampak wabah Covid-19 yang mana diusulkan pemerintah bak angin segar bagi lapangan usaha perbankan.

Jika regulator perbankan menyetujui perpanjangan tersebut, sebagaimana kebijakan pelonggaran relaksasi kartu kredit yang tersebut telah terjadi diperpanjang hingga akhir tahun, tentunya akan bergabung menghurangi beban operasional yang digunakan berasal dari beban pemulihan kerugian nilai asset keuangan (impairment) pada sisa enam bulan terakhir tahun 2024.

Alhasil, beban operasional perbankan mampu menurun, sehingga berkemungkinan mendongkrak laba di dalam akhir tahun 2024. 

Para bankir menyambut baik rencana perpanjangan relaksasi restrukturisasi kredit tersebut, mengingat hal ini akan berdampak baik pada profit bank.

Direktur Keuangan ,Treasury juga Global Services, Bank Jatim Edi Masrianto membenarkan tantangan lapangan usaha perbankan pada waktu ini selain suku bunga tinggi adalah berakhirnya stimulus covid-19.

“Tantangan mayoritas lapangan usaha perbankan pasca berakhirnya stimulus covid adalah merawat kualitas asset yang digunakan tentunya berdampak juga pada meningkatnya cadangan yang mana bisa saja mempengaruhi profit perusahaan,” ungkapnya terhadap Kontan, Hari Senin (1/7).

Alhasil dengan permintaan kredit yang tersebut masih memiliki kemungkinan bertambah ditambah relaksasi restrukturisasi kredit yang tersebut diperpanjang, ia optimis kinerja laba akan sesuai dengan target rencana kegiatan bisnis bank (RBB) tahun ini.

“Permintaan kredit masih ada, kami optimistis kredit dapat bertambah ke bilangan dua digit,” kata Edi. 

Adapun nilai cadangan kerugian penurunan asset keuangan (CKPN) Bank Jatim secara bank only tercatat sebesar Mata Uang Rupiah 1,6 triliun per Mei 2024. Sementara beban kerugian penurunan nilai asset (impairment) tercatat sebesar Rupiah 345,84 miliar. 

Jika dibandingkan pada periode yang mana identik tahun lalu, nilai CKPN Bank Jatim yang dimaksud naik dari Mata Uang Rupiah 1,53 triliun per Mei 2023. Begitu juga dengan beban impairment yang mana naik dari Simbol Rupiah 256,73 miliar. Kenaikan ini seiring dengan telah lama berakhirnya stimulus kredit Covid-19.

Alhasil laba bersih Bank Jatim secara bank only tercatat sebesar Rupiah 536,24 miliar per Mei 2024, atau turun 18,38% yoy. 

Di sisi lain, PT  Bank CIMB Niaga Tbk terus mencatatkan penurunan nilai pencadangan lalu beban impairment secara tahunan. Setiap Mei 2024, nilai pencadangan secara bank only CIMB Niaga tercatat sebesar Mata Uang Rupiah 11,36 triliun, sementara beban impairment sebesar Simbol Rupiah 530,06 miliar.

Pada periode identik tahun lalu, nilai pencadangann Bank CIMB Niaga sebesar Simbol Rupiah 13,11 triliun, sementara beban impairment sebesar Rupiah 1,07 triliun. Artinya total yang dimaksud sudah menurunkan signifikan.

“Untuk perpanjangan restrukturisasi Covid bukan akan mengubah pecadangan kami sebab porsi restrukturisasi ex covid telah hampir habis,” ungkap Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga terhadap Kontan.

Dengan menurunnya beban impairment tersebut, alhasil laba bersih Bank CIMB Niaga secara bank only tercatat sebesar Simbol Rupiah 2,74 triliun per Mei 2024, atau naik 3,27% yoy dari tahun lalu.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) terlibat menyambut baik rencana perpanjangan restrukturisasi kredit covid-19. 

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan, pihaknya menyambut baik rencana tersebut.

“Apabila rencana perpanjangan restrukturisasi dimaksud sudah diterbitkan kebijakannya oleh pemerintah dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka BRI akan patuh serta melaksanakannya,” kata Supari terhadap Kontan.

Lebih lanjut, Supari menyebut, BRI sudah menjalankan kegiatan restrukturisasi kredit pandemi Covid-19 sejak diterbitkannya POJK No. 11/POJK.03/2020 pada Maret 2020 lalu sudah pernah mengakhirinya pada 31 Maret 2024 sebagaimana Keputusan Dewan Komisioner OJK No 34/KDK.03/2022. 

“Dalam menjalankan restrukturisasi kredit UMKM terdampak Covid-19, BRI fokus terhadap penyehatan klien juga sebagai wujud kehati-hatian selama pandemi BRI sudah pernah menyiapkan pencadangan yang lebih tinggi konservatif sesuai PSAK 71 untuk mengantisipasi risiko kedepan,” terang Supari. 

Sebagai informasi, hingga akhir Maret 2024, kualitas kredit BRI masih terjaga dengan non performing loan (NPL) sebesar 3,11% juga sebagai NPL coverage sebesar 214,26%.



Artikel ini disadur dari Laba Bank Bisa Mengembang kalau Restrukturisasi Kredit Diperpanjang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *