Berita

Diplomasi China dalam Balkan: Antara Realisme aspek geopolitik serta Konstruktivisme Normatif

13
×

Diplomasi China dalam Balkan: Antara Realisme aspek geopolitik serta Konstruktivisme Normatif

Sebarkan artikel ini
Diplomasi China di Balkan: Antara Realisme aspek geopolitik juga Konstruktivisme Normatif

Harryanto Aryodiguno, Ph.D
Dosen Hubungan Internasional President University

DARI sudut pandang Realisme, kunjungan ini dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari strategi China untuk memperluas pengaruhnya pada kawasan tersebut. Realisme menekankan bahwa negara melakukan menghadapi dasar kepentingan nasional, lalu pada hal ini, China berperan untuk menguatkan hubungan dengan Serbia sebagai bagian dari upaya untuk mengamankan kedudukan strategisnya di dalam kawasan tersebut. Penegasan Xi terhadap dukungan terhadap Serbia juga dapat dilihat sebagai respons terhadap rivalitas geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar, khususnya dengan Barat.

Di sisi lain, Konstruktivisme menyoroti peran identitas, norma, kemudian persepsi di hubungan internasional. Dalam kunjungan ini, Xi Jinping berjuang untuk mendirikan persepsi China sebagai pemain yang berikrar terhadap stabilitas dan juga integritas negara, dan juga menolak campur tangan asing di urusan domestik suatu negara. Dengan melakukan penghargaan terhadap individu yang terjebak pemboman kedutaan besar China 25 tahun tak lama kemudian lalu menegaskan penolakan terhadap perkembangan sejenis dalam masa depan, China juga berupaya mempengaruhi norma-norma lalu opini umum internasional terhadap campur tangan asing.

Presiden China, Xi Jinping, di kunjungannya ke Serbia yang mana bertepatan dengan peringatan keras 25 tahun pemboman kedutaan besar China di dalam Yugoslavia oleh NATO, menegaskan komitmen China di mengupayakan Serbia di mempertahankan kedaulatan lalu integritas teritorialnya. Dalam pertarungan dengan Presiden Serbia Aleksandar Vučić, Xi mengapresiasi sikap tegas Serbia pada menghadapi tantangan tersebut. Kunjungan ini juga berubah menjadi peluang untuk memperdalam hubungan bilateral antara kedua negara.

Dalam pidato ke bandara, Xi menekankan hubungan urusan politik yang dimaksud kuat antara China lalu Serbia juga hasil positif dari kerja identik melalui Inisiatif Sabuk dan juga Jalan. Dia juga mengekspresikan harapannya untuk berdiskusi lebih lanjut lanjut dengan Vučić mengenai isu-isu yang dimaksud relevan bagi kedua negara.

Selama pertemuan, kedua pemimpin melakukan penandatanganan pernyataan bersatu untuk menguatkan hubungan kemitraan strategis komprehensif dan juga memulai pembangunan masa depan bersama. China berjanji untuk mengupayakan konstruksi komunitas masa depan bersatu dengan Serbia melalui banyak inisiatif, diantaranya perjanjian perdagangan bebas yang mana akan mulai berlaku pada Juli 2024 juga peningkatan impor komoditas pertanian dari Serbia.

Selain itu, Xi juga menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan penolakan terhadap campur tangan asing di urusan pada negeri Serbia, khususnya pada konteks insiden pemboman kedutaan besar China yang dimaksud terjadi 25 tahun lalu. Melalui artikel yang digunakan dipublikasikan pada surat kabar Serbia, Xi menegaskan bahwa China tiada akan membiarkan tragedi sama terulang kembali lalu akan terus mengupayakan Serbia pada mempertahankan kedaulatan dan juga integritasnya.

Dengan mengunjungi portal kedutaan besar yang pernah dibom juga melakukan penghormatan kemiliteran di dalam tempat tersebut, Xi juga mengirimkan arahan kuat terhadap Barat bahwa China menentang separatisme juga campur tangan asing di urusan domestik suatu negara. Tindakan ini sejalan dengan prinsip-prinsip diplomasi Henry Kissinger yang tersebut menekankan pentingnya stabilitas kemudian keutuhan negara pada hubungan internasional.

Dalam konteks ini, kejadian pemboman yang dimaksud juga diangkat sebagai peringatan tegas bagi Barat, khususnya di hubungannya dengan situasi pada Selat Taiwan. Xi menegaskan bahwa China tidak ada akan membiarkan sejarah tragis yang disebutkan terulang kembali dan juga akan terus memperjuangkan kedaulatan juga integritas teritorialnya. Dengan demikian, kunjungan ini tidak cuma tentang meningkatkan kekuatan hubungan antara China serta Serbia, tetapi juga sebagai peringatan keras bagi pihak-pihak yang digunakan memiliki kemungkinan mengganggu stabilitas regional.

Jadi, kunjungan Xi Jinping ke Serbia juga penekanannya terhadap kedaulatan dan juga penolakan terhadap campur tangan asing dapat dipahami sebagai upaya yang kompleks yang tersebut melibatkan faktor-faktor realpolitik dan juga upaya untuk membentuk norma-norma lalu persepsi internasional.

Artikel ini disadur dari Diplomasi China di Balkan: Antara Realisme Geopolitik dan Konstruktivisme Normatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *